Cegah dan Atasi Anemia Sedini Mungkin pada Remaja Putri

Dr. Wiwik Winarningsih, dr., M. Kes
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
Masa remaja merupakan tahapan kritis kehidupan, sehingga periode itu di kategorikan rawan dan mempunyai risiko kesehatan tinggi. Salah satu masalah gizi utama yang juga banyak dialami oleh remaja adalah Anemia. Menurut data hasil Riskesdas tahun 2018, prevalensi anemia pada remaja sebesar 32%, 3–4 dari 10 remaja menderita anemia. Hal tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan asupan gizi yang tidak optimal dan kurangnya aktivitas fisik. Menurut WHO prevalensi anemia pada wanita di Indonesia yaitu sebesar 23,9%, yang terbagi dari prevalensi anemia pada wanita umur 5-14 tahun sebesar 26,4% dan umur 15-25 tahun sebesar 18,4%. Remaja putri berisiko sepuluh kali untuk menderita anemia dibanding dengan remaja putra.
Selain itu remaja putri memiliki peranan penting dalam pembangunan dan perkembangan suatu bangsa, sebab remaja yang sehat merupakan investasi masa depan. Salah satu masalah kesehatan yang menjadi beban pada remaja, khususnya remaja putri adalah anemia. Anemia merupakan kondisi penyakit yang ditandai dengan kurangnya sel darah merah dalam tubuh sehingga menyebabkan kondisi lelah, letih, lesu dan berdampak pada produktivitas penderita. Di samping itu, remaja putri yang mengalami anemia berisiko lebih besar melahirkan berat bayi lahir rendah (BBLR) dan stunting.
Beberapa tips untuk mencegah dan mengatasi anemia diantaranya:
- Pola Makan Bergizi Seimbang
- Mengkonsumsi makanan kaya zat Besi yang bersumber hewani (daging, unggas, ikan).
- Mengkonsumsi makanan yang meningkatkan absorbsi zat besi, seperti jeruk, vitamin C dan makanan hewani (daging, ikan, unggas)
- Tidak mengkonsumsi teh, kopi atau susu bersamaan dengan saat makan atau segera setelah makan karena akan menghambat penyerapan zat besi dari makanan yang dikonsumsi. Jika ingin mengkonsumsi minuman teh, kopi atau susu sebaiknya beri jeda sekitar 2 jam sebelum atau sesudah makan.
- Konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD)
- Mencegah terjadinya/mengobati penyakit penyebabnya misalnya cacingan, Malaria
Dalam Hibah Internal Unusa 2024, saya bersama tim mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat yang berjudul “Pencegahan dan Penanganan Anemia“di Pondok Pesantren Al Hikam Bangkalan dengan sasaran santriwati. Alasan mengapa memilih dan mengangkat tema tersebut dikarenakan perlunya para santriwati memiliki pengetahuan tentang anemia sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap diri sendiri dan menurunkan angka kejadian stunting. Berdasarkan dari hasil kegiatan penyuluhan didapatkan peningkatan pengetahuan pada santriwati sebesar 90%. Dari peningkatan tersebut diharapkan para santriwati mampu memahami tanda-tanda anemia dan mampu mengatasi sedini mungkin apabila dirasa memiliki tanda-tanda anemia tersebut sehingga santriwati mampu tumbuh kembang optimal dan mampu menurunkan angka kejadian stunting di kemudian hari.





