Pengenalan “Kuku dan Segala Penyakitnya” untuk Mendukung Gerakan Bersih Diri di PP. Darussalam Al-Faisholiyah Madura

dr. Maria Ulfa,Sp.DV.,FINSDV
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
Pondok pesantren (ponpes) adalah tempat berkumpulnya banyak orang dimana rentan terjadi penularan penyakit. Untuk menjaga kesehatan kulit para santri dan pengasuh pondok perlu memperhatikan kebersihan masing-masing individu. Namun, sangat sulit mengontrol kebersihan individu setiap santri, khususnya hygiene kuku. Perubahan warna dan tekstur permukaan kuku dapat merefleksikan berbagai kondisi medis. Variasi perubahan secara halus dapat kita sadari, dan sering bentuk ketidaksempurnaan ini tidak banyak berarti untuk sebagian orang, namun bagi mata yang terlatih, kondisi kuku dapat memberikan petunjuk berharga tentang kesehatan, meskipun seringkali tidak menjadi petunjuk pertama suatu penyakit serius. Kuku sehat memiliki tekstur permukaan rata halus, tanpa lubang atau alur. Mereka seragam dalam warna dan konsistensi serta bebas dari bintik- bintik atau perubahan warna. Dengan rajin mencermati bagian ini, sejumlah penyakit bisa dikenali dari sejumlah anomali dan hal yang tidak biasa. Namun, banyak remaja di Indonesia yang belum memiliki pengetahuan tentang cara merawat kuku sehingga dapat terhindar dari penyakit-penyakit kuku. Untuk itu, sangat penting dilakukan penyuluhan “Pengenalan “Kuku dan Segala Penyakitnya” untuk Mendukung Gerakan Bersih Diri di PP. Darussalam Al-Faisholiyah Madura.
dr. Maria Ulfa, Sp.KK, FINSDV, dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya melakukan pengabdian masyarakat tentang pengenalan “kuku dan segala penyakitnya” untuk mendukung gerakan bersih diri di PP. Darussalam Al-Faisholiyah Madura. Pengabdian masyarakat ini bertujuan memberikan edukasi pada santri tentang pengenalan kuku dan segala penyakitnya. Diharapkan santri dapat terhindar dari penyakit kuku dan penyakit yang disebabkan dari kurang bersihnya kuku. Kegiatan pengabdian masyarakat ini diikuti oleh 38 orang santri. Santri mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Kegiatan dilakukan dengan pemaparan materi dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pengabdian masyarakat ini telah meningkatkan pengetahuan santri sebesar 38%. Pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat dilakukan secara rutin sehingga dapat memberikan edukasi kepada santri sehingga santri dapat menerapkan gaya hidup sehat untuk mencegah terjadinya penyakit.





