Penggunaan Teknik JIGSAW untuk Perolehan Kosakata Bahasa Inggris

Mujad Didien Afandi, S.S., M.Pd
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered learning) masih mendominasi pembelajaran bahasa Inggris di sebuah sekolah dasar di Sedati, Sidoarjo, di mana guru sering kali menyediakan atau memberikan sebagian besar pengetahuan yang menyebabkan siswa belajar secara pasif. Pendekatan ini memiliki beberapa kelemahan, seperti siswa tidak mengembangkan rasa tanggung jawab untuk belajar dan berbagi pengetahuan dengan teman sebayanya. Di sisi lain, pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning) dapat menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam hasil belajar. Oleh karena itu, program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berjudul “Penggunaan Teknik Jigsaw untuk Perolehan Kosakata Bahasa Inggris” dilaksanakan di sekolah tersebut.
PKM yang difokuskan pada penerapan teknik jigsaw untuk memeroleh kosakata bahasa Inggris pada tema tertentu, yaitu alat transportasi bertujuan untuk mengatasi empat masalah yang dihadapi siswa dalam mempelajari kosakata bahasa Inggris, yaitu (1) rendahnya rasa tanggung jawab dalam memperoleh pengetahuan, (2) kurangnya rasa tanggung jawab dalam berbagi pengetahuan, (3) minimnya kerja sama antar siswa dalam pembelajaran, dan (4) rendahnya komunikasi antar siswa. Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim dari Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) yang terdiri dari dosen dan mahasiswa yang bekerja sama dengan guru bahasa Inggris di sekolah tersebut.
Teknik jigsaw terbukti memiliki dampak positif pada hasil belajar, meningkatkan keterampilan seperti memori, partisipasi aktif, pemecahan masalah, kolaborasi, dan kerja sama tim. Namun, banyak guru masih ragu untuk mengadopsi pendekatan ini karena peran tradisional mereka sebagai sumber utama pengetahuan bagi siswa. Dengan menggunakan teknik jigsaw, siswa dapat mengembangkan rasa tanggung jawab untuk belajar dan berbagi pengetahuan, serta meningkatkan kerja sama dan komunikasi mereka. Teknik ini menunjukkan hasil yang signifikan yang berupa peningkatan kualitas pembelajaran kosakata bahasa Inggris dan meningkatkan keterampilan penting, yaitu memori, partisipasi aktif, pemecahan masalah, kolaborasi, dan kerja sama tim.
Program PKM ini dibagi menjadi tiga tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap perencanaan, tim mengunjungi sekolah mitra untuk membahas kendala yang dihadapi siswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris, membahas solusinya, dan mendeskripsikan kegiatan, keterlibatan guru-siswa, dan materi pembelajarannya. Pada tahap pelaksanaan, tim bekerja sama dengan guru Bahasa Inggris untuk menerapkan teknik jigsaw. Tim berkolaborasi dengan guru Bahasa Inggris untuk membentuk kelompok jigsaw (jigsaw group) berdasarkan jumlah sub-tema yang akan diajarkan. Setiap siswa kemudian diminta untuk bergabung dalam kelompok ahli (expert group) dengan sub-tema yang sama. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari materi dan membantu anggota kelompok lainnya. Mahasiswa dalam kelompok ahli bekerja sama untuk memperoleh kosakata bahasa Inggris yang terkait dengan sub-tema yang ditugaskan dan kemudian kembali ke kelompok jigsaw untuk berbagi pengetahuan mereka. Selama pelaksanaan jigsaw di kelas, tim juga mengamati aktivitas siswa dan guru menggunakan lembar observasi dan catatan lapangan. Menurut Love & Okonkwo (2019), jigsaw merupakan metode pembelajaran yang menekankan kolaborasi antar siswa, yang mana siswa dibagi menjadi beberapa kelompok jigsaw dan menerima tugas tertentu di bawah bimbingan ketua kelompoknya. Pada tahap evaluasi, tim memantau penerapan jigsaw dalam pembelajaran bahasa Inggris secara periodik.
Pelaksanaan program PKM ini tidak berlangsung dalam satu waktu. Tim PKM memantau penggunaan jigsaw sebagai upaya membantu siswa dalam belajar bahasa Inggris, terutama yang terkait dengan perolehan kosakata. Tim meminta agar guru bahasa Inggris secara konsisten menerapkan teknik ini, terutama saat siswa sedang belajar kosakata. Selain itu, guru diharapkan untuk memberikan informasi dan berkonsultasi dengan tim tentang tantangan apa pun yang mungkin timbul dalam kelas jigsaw.
Hasil program PKM yang berbentuk penerapan teknik jigsaw untuk perolehan kosakata bahasa Inggris sangat memuaskan. Ke-16 aspek yang diamati selama penerapan teknik tersebut menunjukkan hasil positif, yang menunjukkan bahwa siswa belajar secara kooperatif dan kolaboratif. Melalui penggunaan jigsaw, siswa mengalami peningkatan yang signifikan dalam hal daya ingat, partisipasi aktif, pemecahan masalah, kolaborasi, dan keterampilan kerja sama tim. Pemerolehan kosakata siswa, khususnya tema transportasi meningkat karena siswa didorong untuk belajar secara mandiri dan berbagi pengetahuan dengan teman sebayanya, sehingga mereka menjadi siswa yang aktif selama proses pembelajaran.
Program ini berhasil mengatasi dominasi pembelajaran yang berpusat pada guru dengan siswa terhadap guru dan meningkatkan rasa tanggung jawab mereka dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan teknik jigsaw, pembelajaran di kelas menjadi lebih efisien dan efektif karena siswa menjadi lebih terlibat dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Lagi pula, pengembangan kompetensi guru juga menjadi manfaat dari program ini. Guru memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang teknik jigsaw dan cara menerapkannya dalam pengajaran mereka. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan strategi pengajaran yang inovatif dan efektif, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas pendidikan yang mereka berikan kepada siswa.
Selain itu, program ini mendukung program MBKM (Merdeka Belajar-Kampus Merdeka) dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa S1 PBI UNUSA untuk belajar dan menerapkan teknik jigsaw secara langsung. Melalui keterlibatan mereka dalam program Kampus Mengajar, mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan mengajar mereka dan mendapatkan pengalaman praktis dalam menerapkan teknik yang telah mereka pelajari di kelas. Hal ini tidak hanya mendukung pengembangan profesional mereka tetapi juga berkontribusi pada upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah mitra.
Sebagai penutup, program PKM ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Inggris di sekolah mitra. Dengan menerapkan jigsaw, mahasiswa tidak hanya memperoleh kosakata bahasa Inggris dengan lebih efektif tetapi juga mengembangkan keterampilan penting seperti memori, partisipasi aktif, pemecahan masalah, kolaborasi, dan kerja tim. Hal ini sejalan dengan tujuan program untuk meningkatkan pembelajaran mandiri dan kolaboratif, mengurangi ketergantungan siswa pada guru, dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis dan interaktif.





