Self-Awareness Sebagai Modalitas Pencegahan Penyakit Mental pada Remaja di Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo

dr. Paramita Sari, M.Sc
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo, telah lama dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan agama di Jawa Timur. Didirikan pada tahun 1839, pesantren ini kini dipimpin oleh KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, SH, MM, dengan lebih dari 700 santri yang belajar di lingkungan ini. Sebagai lembaga pendidikan yang sebagian besar dihuni oleh remaja, kesehatan mental menjadi isu penting yang perlu mendapatkan perhatian.
Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan remaja, terutama santri, mereka kerap menghadapi berbagai tantangan fisik, psikologis, dan sosial. Menurut laporan The State of World’s Children 2021, satu dari lima remaja berusia 15-24 tahun mengalami gejala depresi dan kehilangan minat dalam beraktivitas. Tantangan ini semakin kompleks di lingkungan pesantren, di mana padatnya hunian serta rendahnya pengetahuan mengenai kesehatan mental memperparah risiko gangguan kesehatan mental.
Dalam konteks ini, penting untuk mengenalkan konsep self-awareness atau kesadaran diri sebagai langkah pencegahan dini terhadap masalah kesehatan mental. Kesadaran diri membantu remaja memahami diri mereka sendiri, mengenali kelemahan dan kekuatan, serta menghadapi tekanan eksternal. Dengan mengembangkan self-awareness, para santri diharapkan mampu mengelola emosi dan tekanan hidup yang mereka hadapi.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa intervensi berbasis self-awareness efektif dalam mengurangi stigma negatif terhadap masalah kesehatan mental. Di banyak komunitas, stigma ini menjadi hambatan utama bagi remaja untuk mencari bantuan profesional ketika mereka membutuhkannya. Oleh karena itu, kampanye kesehatan mental yang fokus pada edukasi self-awareness penting dilakukan di lingkungan seperti pesantren.
Melalui program pengabdian masyarakat yang digelar oleh Fakultas Kedokteran Universitas Nahdatul Ulama Surabaya (UNUSA), penyuluhan kesehatan mental di Pondok Pesantren Zainul Hasan memberikan pemahaman yang lebih baik kepada santri tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dan pengelolaan emosi. Melalui metode ceramah interaktif serta pengisian kuesioner pretest dan posttest, kegiatan ini menunjukkan peningkatan pengetahuan santri tentang risiko kesehatan mental.
“Setelah ikut penyuluhan ini, saya jadi sadar kalau mengenali diri sendiri itu penting, terutama ketika sedang menghadapi masalah. Saya juga jadi tahu kalau kita harus berani meminta bantuan kalau merasa ada yang tidak beres dengan pikiran kita.” ungkap salah satu santri.
Hasil penyuluhan ini memperlihatkan adanya peningkatan kesadaran para santri akan pentingnya self-awareness sebagai modalitas pencegahan dini terhadap gangguan mental. Dengan bekal ini, diharapkan para santri tidak hanya mampu menjaga kesehatan fisik tetapi juga mental mereka, serta menjadi individu yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.





