FK UNUSA Ajak Remaja Putri PP KHA. Wahid Hasyim untuk Deteksi Dini Kanker Payudara

dr. Utami Ambarsari, Sp.Rad (K)
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
Jenis kelamin perempuan merupakan faktor risiko terkuat untuk terjangkit kanker payudara. Pada tahun 2022, terdapat 2,3 juta wanita yang didiagnosis menderita kanker payudara dan 670.000 kematian secara global. Kanker payudara terjadi di setiap negara di dunia pada wanita usia berapapun setelah masa pubertas, namun angka kejadiannya meningkat seiring berjalannya waktu. Hal ini menunjukkan bahwa masih sangat diperlukan upaya pencegahan dengan deteksi dini yang didukung dengan pemeriksaan penunjang yang tepat.
Pemeriksaan penunjang tersebut berupa pemeriksaan radiologi seperti Mamografi, Ultrasonografi (USG), dan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Mamografi merupakan pemeriksaan dengan menggunakan sinar X yang digunakan sebagai bagian dari skrining maupun diagnosis kanker payudara. Sedangkan Ultrasonografi (USG) merupakan modalitas diagnosis dengan menggunakan gelombang suara yang relatif aman, hemat biaya, dan tersedia secara luas. Di sisi lain, Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan pemeriksaan penunjang yang memanfaatkan gelombang magnet.
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang deteksi dini kanker payudara secara mandiri. Selain itu, pemeriksaan penunjang untuk deteksi kelainan payudara juga perlu disampaikan, sehingga masyarakat tidak lagi ragu dan takut untuk memeriksakan diri. Angka kesembuhan kanker payudara juga cukup tinggi jika dideteksi pada stadium awal dan diberikan penanganan yang tepat.
Hal itulah yang melatarbelakangi tim UPPM (Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) FK UNUSA menyelenggarakan sosialisasi terkait pemeriksaan penunjang untuk kelainan payudara, salah satunya di lingkungan pondok pesantren. Adapun pondok yang dipilih sebagai mitra kali ini yakni Pondok Pesantren KHA. Wahid Hasyim, berlokasi di Bangil, Pasuruan. Materi disampaikan oleh dr. Utami Ambarsari, Sp.Rad (K), salah satu dosen Spesialis Radiologi di FK UNUSA.
Secara umum, sosialisasi ini sangatlah penting untuk membekali remaja putri dengan wawasan mengenai deteksi dini dan pemeriksaan penunjang pada kelainan payudara. Diperlukan pengabdian dan pendampingan lebih lanjut baik kepada asatidzah maupun kader kesehatan pondok, untuk senantiasa menghidupkan budaya deteksi dini kanker payudara pada santri putri di pondok pesantren.
Ditulis oleh: Nur Sophia Matin





