Membangun Ekonomi Kreatif di Masa Pandemi melalui Pengolahan Sampah Rumah Tangga

Tatik Muflihah, S.Pd., M.Pd.
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
Rumah tangga merupakan salah satu penyumbang limbah/sampah yang berupa bahan-bahan sisa dari kegiatan sehari-hari. Limbah rumah tangga disebut juga sebagai sampah domestik. Jika tidak dikelola dengan baik maka akan menjadi masalah serius bagi lingkungan. Data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2018 terdapat 66% rumah tangga menangani sampah dengan cara dibakar, 32% memilih cara lain untuk mengolah sampah rumah tangga, sedangkan 1,2% rumah tangga mendaur ulang sampahnya. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat merupakan penyumbang sampah rumah tangga yang belum menangani sampah dengan baik.
PP No. 81 tahun 2012 menyebutkan bahwa upaya mengelola sampah rumah tangga ada dua yaitu pengurangan sampah dan penanganan sampah. Pengurangan sampah meliputi kegiatan pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang sampah; dan atau pemanfaatan kembali sampah. Sedangan penanganan sampah meliputi kegiatan diantaranya: pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah.
Salah satu upaya pengelolaan sampah domestik sekaligus dapat memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan kembali atau mendaur ulang sampah. Kegiatan mengelola sampah rumah tangga yang dilaksanakan berupa pengelolaan sampah rumah tangga khususnya minyak bekas (jelantah). Bentuk kegiatan berupa sosialisasi dan pengumpulan jelantah dari warga desa yang dilakukan oleh tim pengabdian masyarakat dari Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya berkolaborasi dengan inisiatif sebuah yayasan pusat studi untuk Transformasi dan Advokasi Ekonomi Kesehatan Lingkungan Perdamaian Konstruktif di Jombang dan komunitas GURUH (Guyup Rukun Sejahtera) serta melibatkan PKK desa Weru, Jombang Jawa Timur.
Pengorganisasisn program pemberdayaan masyarakat di Desa Weru yaitu: program pengelolaan minyak jelantah dengan memanfaatkan Bank Sampah dilaksanakan sebagai upaya untuk menjaga lingkungan khususnya aliran sungai agar tidak tercemar oleh sampah rumah tangga salah satunya minyak jelantah. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengembangkan ekonomi kreatif dari sampah yang awalnya tidak dikelola dengan baik dan bahkan dapat menyumbangkan polusi air.
Pengelolaan minyak jelantah dilaksanakan dengan pengumpulan dari warga. Setiap warga dihimbau untuk mengumpulkan minyak jelantah ke dalam botol kemasan berukuran 1500 ml. Ada sejumlah 230 kepala keluarga (KK) yang bersedia menjalankan program pengumpulan minyak jelantah. Rerata dalam satu bulan mereka bisa mengumpulkan 1.5 liter minyak bekas. Sehingga dalam satu bulan terkumpul sebanyak 230*1.5 lt= 345 liter minyak jelantah.
Setelah minyak jelantah terkumpul dalam botol kemasan akan dikirim ke pihak pengepul untuk selanjutnya diproses menjadi bahan daur ulang. Salah satunya berupa biodiesel. Sebagai kompensasinya warga akan memeroleh imbalan berupa sejumlah uang dengan nominal tertentu. Untuk 1.5 liter minyak jelantah maka warga memeroleh 4.000 rupiah.
Program membangun ekonomi kreatif melalui pengolahan sampah rumah tangga di desa weru kabupaten jombang merupakan upaya yang dilakukan untuk memberdayakan masyarakat di masa pandemi. Program utama adalah adanya penambahan nilai ekonomi (ekonomi kreatif) dari usaha pengelolaan minyak jelantah. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk membangun kepedulian warga agar turut serta menjaga lingkungan dari pencemaran khususnya minyak jelantah.







