PELATIHAN SELF MANAJEMEN UNTUK MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI PENDERITA DIABETES MELLITUS

Nunik Purwanti, S.Kep.Ns., M.Kep
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular yang diprediksi memiliki kecenderungan meningkat dimasa yang akan datang. Kejadian diabetes melitus di Indonesia berada pada urutan keempat di dunia. World Health Organization (WHO) memprediksi Indonesia mengalami peningkatan penderita diabetes melitus sebanyak 8,4 juta penduduk pada tahun 2000 menjadi 21,3 juta pada tahun 2030 (Rudijanto, Yuwono, Shahab, dkk, 2015).
Untuk mencapai kerberhasilan dalam pengendalian penyakit diabetes mellitus dan pelaksanaan, diperlukan keterlibatan dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari aparat pemerintah, tenaga kesehatan, kader kesehatan, sampai pada pasien dan keluarga. Penderita Diabetes Mellitus dari beberapa survei selalu mengeluh kondisi fisiknya. Sehingga program pengabdian masyarakat yang berorientasi pada pemberdayaan kader kesehatan dalam penerapan self-management diabetes mellitus diperlukan guna mencegah komplikasi jangka panjang sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.
Diabetes melitus merupakan penyakit yang progresif sehingga menyebabkan berbagai komplikasi baik akut maupun kronis jika tidak dikelola dengan baik akan dapat mengakibatkan terjadinya berbagai penyulit menahun, seperti penyakit serebrovaskular, penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh darah tungkai, gangguan pada mata, ginjal dan syaraf. Penyandang diabetes melitus mempunyai risiko 2 kali lebih besar untuk mengalami penyakit jantung koroner dan penyakit pembuluh darah otak, 5 kali lebih mudah menderita ulkus/gangren, 7 kali lebih mudah mengidap gagal ginjal terminal, dan 25 kali lebih mudah mengalami kebutaan akibat kerusakan retina umumnya akan menetap. Usaha pencegahan diperlukan lebih dini untuk mengatasi penyulit tersebut dan diharapkan akan sangat bermanfaat untuk menghindari terjadinya berbagai hal yang tidak menguntungkan. Tanpa intervensi yang efektif, DM tipe 2 akan meningkat, yang disebabkan karena usia harapan hidup yang bertambah, berkurangnya kematian akibat penyakit infeksi dan meningkatnya faktor risiko oleh karena pola hidup dan pola makan yang salah, kegemukan, kurangnya aktivitas fisik, serta stress (PERKENI, 2011) daripada pasien non diabetes. Usaha untuk menyembuhkan kembali menjadi normal sangat sulit jika sudah terjadi penyulit, karena kerusakan yang terjadi.

Perawatan diri (self care) merupakan suatu tindakan individu yang terencana dalam rangka mengendalikan penyakitnya untuk mempertahankan dan meningkatkan status kesehatan dan kesejahteraannya (Orem, 2001). Perilaku perawatan diri yang baik dapat diadaptasi melalui bantuan dan petunjuk dari tenaga kesehatan profesional. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan perawatan diri yang dilakukan dan dikembangkan oleh seseorang dengan menggabungkan keterampilan perawatan diri dan keterampilan dalam proses pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kesehatannya. (Tomey & Alligood, 2006). The American Diabetes Association (ADA, 2016) merekomendasikan kegiatan penyuluhan untuk menjaga agar pengetahuan tentang diabetes tetap dimiliki oleh pasien. Manajemen diabetes mandiri ini berbeda dari pendidikan DM yang tradisional. Manajemen mandiri lebih mengarah pada tindakan nyata dan perubahan perilaku. Oleh sebab itu dalam upaya memberikan DSME maka setiap sesi difokuskan dalam mengidentifikasi perilaku tertentu dan memberikan tujuan yang jelas yang nantinya akan diadopsi oleh penyandang DM, yang akhirnya dapat mengoptimalkan control glikemik, menghindari komplikasi akut maupun kronis dan mengoptimalkan kualitas kehidupan (Funnel, 2010).
Diabetes Self Management Education (DSME) yang mengintegrasikan empat pilar penatalaksanaan DM menekankan intervensi perilaku secara mandiri. DSME menggunakan metode pedoman,konseling, dan intervensi perilaku untuk meningkatkan pengetahuan mengenai diabetes dan meningkatkan keterampilan individu dan keluarga dalam mengelola penyakit DM. Metode ini memfasilitasi pengetahuan, keterampilan dan kemampuan perawatan mandiri (self care behavior) yang sangat dibutuhkan oleh penderita diabetes. Kemampuan untuk melakukan perawatan diri berjalan melalui proses belajar dengan pemberian pengetahuan dan latihan (Funnel, 2010). Pendekatan Pendidikan kesehatan dengan metode DSME tidak hanya sekedar menggunakan metode penyuluhan baik langsung maupun tidak langsung namun telah berkembang dengan mendorong partisipasi dan Kerjasama diabetes dan keluarganya. Proses kelompok merupakan salah satu strategi edukasi dengan beberapa kelebihan diantaranya pendidikan lebih aktif, interaksi lebih dinamis, tercipta social model, dan pembelajaran berorientasi pada masalah (Mensing, Noris, 2009). Program pendidikan Kesehatan DM belum banyak dikembangkan di wilayah komunitas, padahal pasien DM banyak berada di lingkungan komunitas, juga diketahui dari fenomena pelaksanaan edukasi sering mengalami beberapa kendala khususnya di tatanan pelayanan primer (Puskesmas) terutama waktu, tenaga dan kemampuan perawat memberikan edukasi. Akibanya pasien tidak mendapatkan informasi yang cukup terkait penyakit.





