Pemberdayaan Keluarga dalam Pencegahan Stroke Berulang

Yurike Septianingrum, S.Kep., Ns., M.Kep
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan oleh Yurike Septianingrum, Ratna Yunita Sari, dan dr. Dyah Yuniati pada bulan Juni 2024 di Balai RW 07 Kelurahan Banyu Urip, Kec. Sawahan, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Peserta pengabdian masyarakat adalah keluarga pasien stroke di RW 07 Kelurahan Banyu Urip, Kec. Sawahan, Surabaya sebanyak 20 orang. Masalah kesehatan yang banyak dialami oleh masyarakat RW 07 adalah 10 warga RW 03, seluruhnya (100%) menderita penyakit tidak menular (PTM), dimana 70% menderita hipertensi, 80% menderita DM, dan 20% pernah mengalami serangan stroke.
Stroke merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang serius dan salah satu penyebab utama kematian. Diperkirakan 11,8% dari semua kematian dan kecacatan jangka panjang terjadi di negara maju dan berkembang akibat stroke. Namun, negara berkembang tidak memiliki informasi, sumber daya, kebijakan, dan struktur yang cukup untuk menanggung beban stroke. Meskipun teknologi medis dan kemajuan kesehatan masyarakat dapat membantu mengurangi angka kematian akibat stroke, para penyintas stroke biasanya masih mengalami kecacatan. Oleh karena itu, pemulihan dini di antara pasien stroke sangat penting, terutama selama 3-6 bulan pertama (“periode emas”). Fungsi keluarga merupakan bagian penting dari perlindungan pasca-stroke karena keluarga memainkan peran penting dalam pemulihan pasien stroke. Anggota keluarga adalah yang pertama kali mengambil peran sebagai pengasuh segera setelah stroke. Stroke berulang (sekunder), merupakan salah satu komplikasi yang sering timbul setelah pasien pulang dari perawatan di rumah sakit. Pasien yang pernah menderita stroke memiliki risiko untuk terkena serangan stroke sekunder. Serangan stroke sekunder ini bisa lebih fatal dari stroke pertama, karena bertambah luasnya kerusakan otak yang terjadi akibat serangan stroke sebelumny. Peran keluarga dalam perawatan pasien stroke sangat penting untuk mencegah stroke. Upaya pemberdayaan keluarga bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam merawat pasien stroke.
Kegiatan pemberdayaan keluarga dibagi menjadi dua, yakni pertam,penyuluhan mengenai konsep stroke dan pencegahan stroke berulang. Kedua, membentuk peer group keluarga pasien stroke. Pada grup diberikan materi tentang perawatan pasien stroke di rumah (monitor tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol), dan cara mengelola stres selama perawatan pasien stroke. Keluarga juga dapat berdiskusi dan sharing kondisi pasien, hambatan dan strategi selama merawat pasien. Selama program ini, keuarga juga menerima afirmasi positif dan motivasi untuk selalu sabar dan ikhlas dalam merawat pasien stroke. Setelah program ini keluarga lebih memahami perawatan pasien stroke serta mampu mengidentifikasi upaya mencegah stroke berulang.





