PENILAIAN RISIKO COVID19 SEBAGAI PENGUATAN SISTEM KEWASPADAAN DINI DAN RESPONS DENGAN APLIKASI INARISK PERSONAL

Abdul Hakim Zakkiy Fasya, S.KM., M.KL
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
Pandemi Covid19 memaksa seluruh elemen partisipan negara, mulai dari pimpinan hingga masyarakat untuk turut serta dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penularannya. Edukasi yang secara simultan telah dilaksanakan pada masyarakat, sebaiknya ditunjang dengan kesadaran diri tiap masyarakat untuk mendeteksi gejala dan melaporkan dengan segera kondisinya, sehingga bisa menjadi peringatan dini bagi wilayah di sekitarnya.
Pelaksanaan kewaspadaan dini dan respons di wilayah kerja puskesmas kabupaten Trenggalek sampai dengan hari ini dilaksanaan dengan alur sebagai berikut 1) Kader melaporkan temuan kasus ke penanggungjawab program surveilans; 2) Penanggungjawab program merekap laporan dalam 1 minggu; 3) Penanggungjawab program input data laporan dari kader melalui SMS atau langsung mengisi form di website Kementerian Kesehatan. Laporan yang direkapitulasi tiap minggu dan baru dilaporkan dengan frekuensi 1 minggu sekali, tidak dapat memberikan warning/ alert jika terdapat indikasi keparahan kasus. Oleh karena itu perlu sebuah sistem yang dapat memberikan update data secara dinamis dan realtime, sehingga perkembangan kasus dapat segera diketahui.
Sistem kewaspadaan dini yang diterapkan di Kabupaten Trenggalek, dalam upaya pencegahan penularan penyakit, masih dilakukan secara manual dengan rekapitulasi kasus setiap minggu. Sistem yang digunakan masih berbasis web dengan pelaporan setiap minggu. Input data hanya dapat dilakukan oleh petugas surveilans tingkat puskesmas. Hal tersebut berakibat laporan kasus dari masyarakat harus menunggu selama 1 minggu untuk muncul datanya di kementerian, sehingga baru diketahui apakah terjadi kegawatan kasus atau tidak setelah 1 minggu.
Selain itu, masyarakat Trenggalek belum mengetahui langkah melakukan asesmen mandiri untuk mendeteksi gejala dan tingkat risiko penyakit yang dialami, khususnya dalam masa pandemi ini gejala akibat Covid19. Simpang siur informasi yang beredar di WhatsApp grup menyebabkan bias informasi dan keresahan di masyarakat Trenggalek. Hal tersebut bahkan mengakibatkan beberapa masyarakat mengalami trauma dan ketakutan berlebihan, sehingga menutup diri dari informasi Covid19. Jika kondisi ini dibiarkan, akan semakin sulit menumbuhkan kesadaran mandiri tiap elemen masyarakat untuk turut serta dalam upaya pencegahan penularan Covid19.
Menggunakan aplikasi InaRISK Personal, partisipan diajak untuk melakukan asesmen mandiri terhadap risiko penularan Covid19. Dilakukan dengan cara pemberian materi, pendampingan, dan evaluasi. Tahap awal adalah perkenalan aplikasi kepada partisipan menggunakan video deskripsi. Video menjelaskan tentang aplikasi, berupa sejarah, fungsi, manfaat dan cara kerja aplikasi InaRISK personal. Pada tahap selanjutnya, yaitu melakukan simulasi. Partisipan akan mencoba operasional aplikasi, mulai dari download aplikasi di gadget masing-masing, melakukan registrasi, mencoba fitur yang terdapat dalam aplikasi, serta mencoba melakukan asesmen pribadi. Partisipan akan mencoba aplikasi dalam waktu 1 bulan, dengan pendampingan. Pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari pendampingan secara penuh, kemudian mengurangi frekuensi pendampingan dalam waktu seminggu. Evaluasi secara akumulasi akan menunjukkan pemahaman, keterbiasaan, dan penerimaan partisipan terhadap aplikasi InaRISK. Hal ini akan menjadi informasi ke depan jika akan dilakukan implementasi aplikasi untuk kegiatan lain pada partisipan.
InaRISK Personal merupakan aplikasi yang berisikan informasi tingkat bahaya suatu wilayah dan dilengkapi dengan rekomendasi aksi untuk melakukan antisipasinya secara partisipatif. Aplikasi ini disusun bersama antara pemerintah dan pihak lain yang memiliki pengalaman dalam edukasi kebencanaan di Indonesia. Aplikasi ini dibangun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana dengan dukungan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika serta lembaga lain terutama dalam penyediaan data.
InaRISK Personal akan terus dikembangkan dan berevolusi untuk memenuhi kebutuhan pembaharuan data, informasi, dan metodologi yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat. Diharapkan, dengan aplikasi ini dapat mewujudkan bangsa Indonesia menjadi tangguh menghadapi bencana.
Masa pandemi Covid19 ini aplikasi InaRISK dikembangkan dengan memunculkan opsi bencana Covid19. Hal ini berfungsi untuk mengetahui bahaya Covid19 pada diri sendiri dan lingkungan sekitar. Selagi berada di rumah, masyarakat dapat melakukan penilaian mandiri terkait perlu atau tidaknya melakukan tes cepat (rapid test) Covid19 melalui aplikasi InaRISK yang dibuat oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana, yang ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menjadi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid19. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat mengisi sejumlah pertanyaan sesuai dengan kategori yang tersedia, yaitu pribadi, keluarga, dan desa.









