Risiliensi Santri Bebas Narkoba sebagai Modalitas Pencegahan HIV di PP. Hidayatullah Al Muhajirin Madura

dr. Dyah Yuniati,Sp.S
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
Penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) di kalangan remaja dinilai memprihatinkan. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) 2,2% dari total populasi orang di Indonesia terjerat narkoba. Narkoba adalah zat yang jika dimasukan dalam tubuh manusia, baik secara oral/diminum, dihirup, maupun disuntikan, dapat mengubah pikiran, suasana hati atau perasaan, dan perilaku seseorang. Narkoba dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologis. Hingga kini penyebaran narkoba sudah hampir tak bisa dicegah. Mengingat hampir seluruh penduduk dunia dapat dengan mudah mendapat narkoba dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan beberapa hal antara lain karena Indonesia yang terletak pada posisi di antara tiga benua dan mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pengaruh globalisasi, arus transportasi yang sangat maju dan pergeseran nilai materialistis dengan dinamika sasaran opini peredaran gelap narkoba. Penggunaan narkoba (NAPZA) suntikan dan alkohol adalah faktor besar dalam penyebaran infeksi HIV. Di luar Afrika, penggunaan narkoba suntikan bertanggung jawab untuk sepertiga infeksi HIV yang baru. Alat-alat yang dipakai secara bergantian untuk memakai narkoba dapat membawa HIV dan hepatitis virus, dan penggunaan narkoba dan alkohol juga dikaitkan dengan hubungan seks secara tidak aman. Untuk itu, sangat penting dilakukan penyuluhan “Risiliensi Santri Bebas Narkoba sebagai Modalitas Pencegahan HIV di PP. Hidayatullah Al Muhajirin Madura “.
dr. Dyah Yuniati, Sp.S,M.Kes, dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya melakukan pengabdian masyarakat tentang risiliensi santri bebas narkoba sebagai modalitas pencegahan HIV di PP. Hidayatullah Al Muhajirin Madura. Pengabdian masyarakat ini bertujuan Meningkatkan pemahaman dengan memberikan edukasi kepada santri agar dapat memahami pentingnya risiliensi santri bebas narkoba sebagai modalitas pencegahan HIV. Kegiatan pengabdian masyarakat ini diikuti oleh 40 orang santri. Santri mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Kegiatan dilakukan dengan pemaparan materi dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pengabdian masyarakat ini telah meningkatkan pengetahuan santri sebesar 25,6%. Pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat dilakukan secara rutin sehingga dapat memberikan edukasi dan santri dapat terhindar dari narkoba dan penyakit HIV.





