DOSEN MENGABDILPPM

Tak Lagi Tabu, Video Edukasi Bekali Santri tentang Kesehatan Reproduksi

Mojokerto – Kesehatan reproduksi remaja merupakan salah satu aspek penting dalam mendukung tumbuh kembang generasi muda. Namun, topik kesehatan reproduksi masih sering dianggap sensitif dan membuat remaja merasa malu untuk bertanya atau berkonsultasi. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam program pengabdian kepada masyarakat “Pesantren Digital Sehat Reproduksi” yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Burhanul Hidayah.

Program yang dilaksanakan oleh tim Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran santri mengenai kesehatan reproduksi melalui edukasi yang lebih menarik dan sesuai dengan karakteristik remaja. Salah satu media yang digunakan adalah video edukasi kesehatan reproduksi yang menyajikan informasi secara visual, sederhana, dan mudah dipahami oleh santri. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-being atau Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja dalam menjaga kesehatan reproduksi. Program ini juga mendukung SDG 4: Quality Education atau Pendidikan Berkualitas karena memberikan akses terhadap edukasi kesehatan yang informatif, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan remaja di lingkungan pesantren.

Pondok Pesantren Burhanul Hidayah memiliki sekitar 380 santri mukim berusia 13–18 tahun. Pada usia tersebut, santri mengalami berbagai perubahan biologis, psikologis, sosial, dan spiritual sebagai bagian dari masa remaja. Berdasarkan hasil observasi dan kegiatan sebelumnya, masih ditemukan berbagai persoalan kesehatan, antara lain anemia, gangguan kebersihan diri, masalah kulit, gangguan pencernaan, serta keluhan kesehatan reproduksi. Sebagian santri juga masih merasa malu membicarakan masalah kesehatan reproduksi secara langsung karena dianggap sebagai topik yang sensitif.

Melalui kegiatan ini, santri diberikan pemahaman mengenai berbagai perubahan yang terjadi selama masa pubertas, termasuk perubahan bentuk tubuh, pertumbuhan rambut, perubahan suara, menstruasi pada perempuan, serta mimpi basah pada laki-laki. Santri juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan tubuh dan organ reproduksi, menjaga kebersihan saat menstruasi, serta mengenali berbagai gangguan kesehatan reproduksi dan Infeksi Menular Seksual.

Tidak hanya aspek fisik, edukasi juga membahas kesehatan mental dan sosial remaja. Santri diajak untuk menghargai tubuh dan privasi diri maupun orang lain, memahami batasan diri, berani mengatakan tidak terhadap sesuatu yang membuat tidak nyaman, serta mencari bantuan kepada orang yang dipercaya ketika menghadapi masalah.

Di era digital, santri juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya memilih informasi kesehatan secara bijak. Santri diajak untuk memeriksa sumber informasi, memahami isi, membandingkan dengan sumber terpercaya, dan tidak langsung menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya. Hal ini penting karena informasi kesehatan yang beredar di media sosial tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan.

Program ini juga memperkuat peran kader santri husada “Bersahaja” sebagai peer educator. Kader mendapatkan pembekalan mengenai komunikasi kesehatan, edukasi sebaya, penyampaian informasi yang benar, serta pemanfaatan media digital. Dengan adanya kader, edukasi kesehatan diharapkan tidak hanya berhenti pada kegiatan pengabdian, tetapi dapat terus diteruskan kepada santri lainnya secara berkelanjutan.

Untuk melihat perubahan pengetahuan setelah mengikuti edukasi, dilakukan pre-test dan post-test terhadap 20 peserta. Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 92,10 pada pre-test menjadi 94,10 pada post-test, atau meningkat sebesar 2,17 persen. Meskipun secara deskriptif terdapat peningkatan, hasil uji statistik menunjukkan bahwa perubahan tersebut belum signifikan secara statistik dengan nilai p = 0,111.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun budaya edukasi kesehatan reproduksi yang lebih terbuka di lingkungan pesantren. Video edukasi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali sebagai media pembelajaran bagi santri, sementara kader santri husada dapat berperan sebagai penggerak edukasi kesehatan di antara teman sebaya.

Melalui pendekatan edukasi berbasis video dan pemberdayaan santri, kesehatan reproduksi diharapkan tidak lagi menjadi topik yang dianggap tabu. Santri diharapkan mampu memahami perubahan dirinya, menjaga kebersihan dan kesehatan reproduksi, memilih informasi kesehatan yang benar, serta berani mencari bantuan ketika menghadapi masalah. Dengan demikian, pesantren dapat menjadi lingkungan yang tidak hanya membentuk karakter dan pengetahuan, tetapi juga mendukung lahirnya generasi santri yang sehat, percaya diri, dan bertanggung jawab.

Ach. Fauzi, S.Kep.,Ns

Staff Penelitian, Inovasi dan Umum

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *