UNUSA Jalankan Pengabdian di Wonokromo: Kader Berdaya, Pasien Diabetes Lebih Terkendali

SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) melalui tim pengabdian kepada masyarakat yang diketuai Difran Nobel Bistara, S.Kep., Ns., M.Kep., sukses melaksanakan program pemberdayaan kader kesehatan di Kelurahan Wonokromo, Surabaya. Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Kader Kesehatan melalui Model Pendampingan ‘Edu-Psiko-Relaksasi'” ini melibatkan 15 kader kesehatan serta 30 pasien diabetes mellitus tipe 2.
Program ini merupakan hilirisasi hasil penelitian tim dosen UNUSA yang mengintegrasikan edukasi diabetes, dukungan psikologis, dan teknik relaksasi dalam satu model pendampingan komunitas yang terpadu. Selama ini, edukasi diabetes di masyarakat dinilai masih berorientasi pada peningkatan pengetahuan semata, belum menyentuh aspek efikasi diri dan dukungan psikologis yang sama pentingnya bagi pasien penyakit kronis.
“Kami melihat kesenjangan dalam pendekatan edukasi diabetes. Kader kesehatan memiliki posisi strategis karena kedekatan mereka dengan masyarakat. Mereka bukan sekadar penyampai informasi, tetapi kini berperan sebagai fasilitator perubahan perilaku,” ujar Difran Nobel Bistara.
Kegiatan diawali dengan sosialisasi dan koordinasi bersama kelurahan, puskesmas, dan kader, dilanjutkan dengan pelatihan kader sebagai agen perubahan. Materi pelatihan mencakup manajemen diri diabetes, komunikasi edukatif, pendekatan psikososial, serta teknik relaksasi napas dalam dan relaksasi otot progresif. Setelah pelatihan, kader mendampingi pasien selama 4–8 minggu melalui tiga komponen utama: edukasi, dukungan psikologis, dan latihan relaksasi.
Hasilnya cukup menggembirakan. Kompetensi kader meningkat signifikan, begitu pula efikasi diri pasien. Proporsi pasien dengan efikasi diri tinggi naik cukup tajam, sementara angka efikasi diri rendah menurun. Rata-rata gula darah sewaktu pasien juga menunjukkan tren perbaikan, dengan mayoritas pasien mengalami penurunan kadar gula darah. Tingkat kepatuhan pasien terhadap komponen manajemen diri secara umum tergolong baik, meskipun aktivitas fisik dan pemantauan gula darah masih perlu penguatan.
Tim pengabdian terdiri dari dosen dan mahasiswa UNUSA yang berkolaborasi dalam kegiatan ini. Selain Difran Nobel Bistara sebagai ketua, terdapat Erika Martining Wardani, Tata Mahyuvi, dan Ardyarini Dyah Savitri dari sisi dosen, serta mahasiswa Arhab Nashrullah, Indri Eka Wahyuni, Nabila Jay, Rafi Nasywan Saifani, Nafis Az-Zahro, dan Elly Sakinatin yang membantu pelaksanaan di lapangan.

Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-3, yaitu Good Health and Well-being, yang menargetkan kehidupan sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua usia. Melalui pemberdayaan kader dan penguatan manajemen diri pasien diabetes, program ini berkontribusi pada upaya pencegahan penyakit tidak menular dan peningkatan kualitas hidup masyarakat di tingkat komunitas. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi serta Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) pada bidang kesehatan.
Keberlanjutan program diupayakan melalui penguatan kapasitas kader sebagai fasilitator lokal, penyediaan modul dan media edukasi yang dapat digunakan secara mandiri, serta integrasi dengan kegiatan puskesmas atau posyandu. Tim juga merekomendasikan kepada pemangku kepentingan untuk mengadopsi model ini sebagai kegiatan rutin. “Kami berharap model Edu-Psiko-Relaksasi dapat menjadi salah satu pilihan pendekatan komunitas yang sederhana dan aplikatif. Dengan melibatkan kader sebagai ujung tombak, pesan kesehatan dapat terus bergulir bahkan setelah kegiatan tim selesai,” pungkas Difran.
